Rabu, 26 Oktober 2011
BANDUNG - Tiga patahan gempa aktif yang ada di Jawa Barat sejauh ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah maupun oleh para ilmuwan.
Tiga patahan gempa tersebut adalah patahan Lembang yang bertemu dengan Cimandiri di Cisarua, Lembang, Jawa Barat. Sedangkan patahan Cimandiri membentang hingga Baribis yang menyambung hingga Cilacap.
“Selama ini perhatian pemerintah biasa saja. Sesar Lembang tak bisa diabaikan, jelas harus diteliti. Kita enggak tahu kan gempa bisa kapan saja terjadi,” kata pakar kebumian (geologi) Awang Harun, di Bandung, Jawa Barat, Rabu (26/10/2011).
Geolog senior Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) ini menyebutkan, jarangnya penelitian terhadap tiga patahan gempa aktif tersebut karena selama ini perhatian lebih tertuju kepada pusat gempa di Sumatera.
Acuannya, karena aktivitas tiga patahan di Jabar itu relatif jarang dibandingkan Sumatera. “Para ahli konsentrasi di barat Sumatra karena paling aktif, patahannya yang membentang dari Aceh ke Lampung," jelas Awang.
Dia berharap, tiga patahan ini kini lebih diperhatikan. Terutama untuk mengukur aktivitas dari gerakannya pertahun. Begitu juga dengan patahan Cimandiri. Sejauh ini belum diketahui berapa kecepatannya.
"Aktivitasnya justru lebih banyak di sesar Lembang, tetapi bukan di pertemuan antara Sesar Lembang dan Sesar Cimandiri," ujarnya.
Karenanya dia menyarankan agar di Sesar Lembang ditempatkan GPS terutama di dua sisi, yakni di Cisarua, Lembang dan di ujung lainnya Palasari.
Dengan penempatan GPS ini, bisa diukur pergerakannya dan titik koordinat setiap tahun bahkan sampai 20 atau 50 tahun. “Penelitian geologi kan tidak bisa cepat, perlu waktu minimal 50 tahun. Hanya di kita penelitian seperti itu masih kurang,"
Saat ini, kata dia, status Sesar Lembang relatif aman. Jika diukur 1 sampai 10 dengan tingkat kerawanan tertinggi 10, Sesar Lembang mendapat poin 3. Tetapi tetap saja tidak bisa diabaikan.
Dia mencontohkan, di Amerika Serikat penelitian patahan dilakukan dengan cara menanam GPS di dalam tanah tempat pertemuan dua sesar. Mereka ngebor, di patahannya dan seismograf atau GPS ditanam di bawahnya sehingga bisa dideteksi gerakannya pertahunnya.
"Dari situ bisa ketahuan bahwa sesar itu sedang membangun gaya. Bisa dilakukan predisksi kira kapan aktifnya. Tapi prediksi tepatnya kapan gempa terjadi mereka tetap tidak bisa meakukannya," ungkapnya.
Saat ini, peneliti Sesar Lembang baru sampai pada pengumpulan data historis kegempaan. Bahkan para ahli masih belum sepakat jenis sesar apa tepatnya Sesar Lembang itu.
"Untuk nama sesar masih didiskusikan. Kalau saya lebih sepakat Sesar Lembang disebut sesar normal karena terbentuk akibat kolepnya Gunung Sunda Purba. Dari analisis struktur kerak bumi, disebut sesar mendatar pun wajar. Dalam geologi ada jenis itu, namanya sesar gunting, yaitu sesar mendatar tapi tidak sama turunnya seperti gunting," tutupnya.
Sumber:http://news.okezone.com
BANDUNG - Tiga patahan gempa aktif yang ada di Jawa Barat sejauh ini kurang mendapat perhatian dari pemerintah maupun oleh para ilmuwan.
Tiga patahan gempa tersebut adalah patahan Lembang yang bertemu dengan Cimandiri di Cisarua, Lembang, Jawa Barat. Sedangkan patahan Cimandiri membentang hingga Baribis yang menyambung hingga Cilacap.
“Selama ini perhatian pemerintah biasa saja. Sesar Lembang tak bisa diabaikan, jelas harus diteliti. Kita enggak tahu kan gempa bisa kapan saja terjadi,” kata pakar kebumian (geologi) Awang Harun, di Bandung, Jawa Barat, Rabu (26/10/2011).
Geolog senior Badan Pelaksana Kegiatan Usaha Hulu Minyak dan Gas Bumi (BP Migas) ini menyebutkan, jarangnya penelitian terhadap tiga patahan gempa aktif tersebut karena selama ini perhatian lebih tertuju kepada pusat gempa di Sumatera.
Acuannya, karena aktivitas tiga patahan di Jabar itu relatif jarang dibandingkan Sumatera. “Para ahli konsentrasi di barat Sumatra karena paling aktif, patahannya yang membentang dari Aceh ke Lampung," jelas Awang.
Dia berharap, tiga patahan ini kini lebih diperhatikan. Terutama untuk mengukur aktivitas dari gerakannya pertahun. Begitu juga dengan patahan Cimandiri. Sejauh ini belum diketahui berapa kecepatannya.
"Aktivitasnya justru lebih banyak di sesar Lembang, tetapi bukan di pertemuan antara Sesar Lembang dan Sesar Cimandiri," ujarnya.
Karenanya dia menyarankan agar di Sesar Lembang ditempatkan GPS terutama di dua sisi, yakni di Cisarua, Lembang dan di ujung lainnya Palasari.
Dengan penempatan GPS ini, bisa diukur pergerakannya dan titik koordinat setiap tahun bahkan sampai 20 atau 50 tahun. “Penelitian geologi kan tidak bisa cepat, perlu waktu minimal 50 tahun. Hanya di kita penelitian seperti itu masih kurang,"
Saat ini, kata dia, status Sesar Lembang relatif aman. Jika diukur 1 sampai 10 dengan tingkat kerawanan tertinggi 10, Sesar Lembang mendapat poin 3. Tetapi tetap saja tidak bisa diabaikan.
Dia mencontohkan, di Amerika Serikat penelitian patahan dilakukan dengan cara menanam GPS di dalam tanah tempat pertemuan dua sesar. Mereka ngebor, di patahannya dan seismograf atau GPS ditanam di bawahnya sehingga bisa dideteksi gerakannya pertahunnya.
"Dari situ bisa ketahuan bahwa sesar itu sedang membangun gaya. Bisa dilakukan predisksi kira kapan aktifnya. Tapi prediksi tepatnya kapan gempa terjadi mereka tetap tidak bisa meakukannya," ungkapnya.
Saat ini, peneliti Sesar Lembang baru sampai pada pengumpulan data historis kegempaan. Bahkan para ahli masih belum sepakat jenis sesar apa tepatnya Sesar Lembang itu.
"Untuk nama sesar masih didiskusikan. Kalau saya lebih sepakat Sesar Lembang disebut sesar normal karena terbentuk akibat kolepnya Gunung Sunda Purba. Dari analisis struktur kerak bumi, disebut sesar mendatar pun wajar. Dalam geologi ada jenis itu, namanya sesar gunting, yaitu sesar mendatar tapi tidak sama turunnya seperti gunting," tutupnya.
Sumber:http://news.okezone.com
Ini Dia Mempelai Pria Tertua di Dunia
ASSAM - Dalam usianya yang ke 120, Hazi Abdul Noor menikah untuk yang kedua kalinya dengan seorang wanita yang berusia 60 tahun. Abdul dinobatkan sebagai seorang mempelai pria tertua di dunia.
Istri pertama dari Abdul, Salma Khatun, meninggal dunia enam tahun yang lalu, dirinya pun menikahi Samoi Bibi yang berasal dari Desa Sathgori, India. Abdul sendiri memiliki dua putra, empat putri dan sejumlahcucu. Demikian seperti diberitakan Daily Mail, Kamis (27/10/2011).
Sebanyak 500 orang menghadiri upacara pernikahan pengantin tua itu di desa yang terletak di Negara Bagian Assam, India.
Saat Salma Khatun meninggal dunia, Abdul pun langsung meminta putranya, Hazi Azir Uddin, agar mencarikan dirinya istri kedua.
"Tidak mudah bagi saya untuk mencarikan seorang mempelai wanita untuk seorang pria yang berusia 100 tahun. Meski demikian, karena kehendak Tuhan, saya menemukan calon istri bagi ayah saya yang usianya 60 tahun. Istri kedua ayah saya, sempat menikah, namun suaminya tewas dan dirinya tidak memiliki keturunan," ujar Azir.
Setelah menikahi Abdul, Bibi memiliki anak-anak tiri yang usianya bahkan lebih tua daripadanya.
"Saya akan melakukan yang terbaik untuk menjaga suami saya," ujar Bibi.
sumber:http://international.okezone.com
Selasa, 08 Maret 2011
Langganan:
Komentar (Atom)

